Profile

Join date: Sep 29, 2022

About

4 Tempat Rekreasi Warisan Riwayat di Majalengka yang Instagramable



Selainnya kaya rekreasi alam dan agrowisata, Majalengka mempunyai tujuan rekreasi riwayat. Bahkan juga sampai sekarang ini beberapa periset masih lakukan pengkajian untuk cari bukti-bukti warisan riwayat yang berada di Majalengka.


dijelaskan dalam Buku Riwayat Majalengka Kreasi N Kartika yang menginterviu Budayawan Ayatrohaedi, Nama Majalengka jika disimpulkan dengan bahasa Jawa Kuno yakni kata ‘Maja' sebagai nama buah dan kata ‘Lengka' yang berati pahit, menjadi kata ‘Majalengka' ialah nama lain dari kata Majapahit.


Disamping itu Majalengka sebagai ibu-kota kabupaten seterusnya makin dikuatkan karena ada Surat Staatsblad, 1887 No. 159 atur dan menerangkan mengenai batasan-batas daerah dari Kota Majalengka.


Nach, untuk belajar sekalian berekreasi riwayat, berikut sejumlah lokasi yang https://www.javatravel.net/history mengumpulkan, dan dipercaya punyai nilai riwayat di Majalengka.


1. Goa Jepan

Goa Jepang atau Bunker Kodim yang berada di Jalan KH Abdul Halim Kelurahan Tonjong Majalengka, sekarang ini jadi mulai perhatian pelancong. Bahkan juga, di hari liburan banyak masyarakat yang bertandang untuk saksikan langsung seperti apakah Goa Jepang atau Bunker Kodim itu.


Kepala Disparbud Majalengka, H Gatot Sulaeman AP MSi menjelaskan berdasar hasil riset Bunker Kodim ini dipastikan sebagai tinggalan purbakala yang penuhi sebagai Cagar Budaya Tingkat Propinsi Jawa Barat dan diproteksi Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 mengenai cagar budaya dan sudah tercatat pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat yang diatur Kodim 0617 Majalengka.


"Berdasar hasil pencatatan, bangunan komplek itu semenjak awalnya sudah dipakai sebagai tangsi militer Belanda. Disaksikan dari style bangunannya, peluang tangsi ini dibuat di akhir era 19 s/d dasawarsa era 20," ucapnya.


Bunker bangunannya ikat ia selebar 116 mtr. persegi berdiri di atas tempat 69.000 mtr. persegi pas menghadap Sungai Cibedug dan jalan KH Abdul Halim pas di samping selatannya.


Bungker dibuat pada tebing sungai yang diperkokoh dengan bata dan beton, segi luarnya teteap berbentuk tanah sebagai penyamaran dan sebagai peredam. Di antara bunker pertama dengan ke-2 memiliki jarak 7 mtr..


"Pintu bunker 1 menghadap ke arah barat dan pintu bunker 2 menghadap ke arah barat laut. Hingga ke-2 bangunan bunker menghadap basis kodim. Daun pintunya dibuat dari baja dengan lubang persegi empat sebagai sirkulasi udara dan sinar," tutur Gatot.


Masih disebutkannya, tinggi pintu memiliki ukuran 175 cm, lebar 122 cm, dengan tebal 10 cn. Didnding bunker dibuat dari bata yang dilapis beton dengan tebal 48 cm, begitu juga dengan dinding sisi atas meakioun tebalnya tidak dikenali dan dengan lantai tanah.


"Ketebalan dinding yabg berlainan ada di bagian dinding pintu yang mempunyai ketebalan 50 cm. Setiap bunker mempunyai ruang berwujud U pada setiap ujung lorongnya dengan panjang 4,2 m ada pintu jalan masuk keluar dalam jarak antara pintu 4,4 m. Untuk prngamatan dinding bunker sisi dalam kelihatan ada sisa lubang kusen pintu terletak pada ujung dalam ke-2 lorong," bebernya.


Masih diterangkan Gatot, ruangan khusus bunker diusapt menjadu dua dengan 1 pintu penyambung yang sekarang cuma tetlihat sisa kusen saja. Tiap ruangan memiliki ukuran 550x370 cm dan 400x370 cm dengan tinggi 187 cm.


2. Rumah Tradisi Panjalin

Rumah kuno itu berada di RT/RW 1/5 Block Rabu, Daerah Penjalin, Dusun Panjalin, Cikalong Wetan, Kabupaten Majalengka. Lokasi ini memiliki jarak sekitaran 23 km dari Majalengka. Untuk capai ke lokasi relatif lumayan gampang dengan jalan kaki dan kendaraan beroda 2, kendaraan beroda 4 cuma dapat mencapai jalan besar yang ada pada bagian timur daerah. Jarak di antara jalan besar dan rumah tradisi sekitaran 200 m. Secara astronomis rumah ini berada pada koordinat 6º41'51" LS dan 108º21'25" BT.


Rumah Tradisi Panjalin dibuat oleh Raden Sanata, sekitaran era ke-17. Beliau sebagai salah seorang turunan dari Talaga yang berguru di ponpes Pager Gunung, dekat Daerah Penjalin. Raden Saneh menikah dengan Seruni yang disebut putri dari sesepuh Daerah Penjalin, yakni Raja Syahrani. Raja Syahrani sendiri sebagai turunan dari Cirebon yang tinggal, wafat, dan disemayamkan di Panjalin. Pada tempat ini beliau beraktivitas menebarkan agama Islam. Rumah ini memungkinkan warisan dari periode Islam, tapi secara urutan tidak bisa ditegaskan secara tepat.


3. Pengeboran Pertama Minyakbumi di Indonesia

Masyarakat Majalengka pantas berbangga, karena dipercaya tempat ini sebagai salah satunya tempat pemboran minyak bumi pertama di Indonesia.


Dengan diawali laporan penemuan minyak bumi oleh Corps of the Mining Engineers, lembaga punya Belanda, pada dasawarsa 1850-an, diantaranya di Karawang (1850), Semarang (1853), Kalimantan Barat (1857), Palembang (1858), Rembang dan Bojonegoro (1858), Surabaya dan Lamongan (1858). Penemuan minyak jadi berlanjut pada dasawarsa selanjutnya, diantaranya di wilayah Demak (1862), Muara Enim (1864), Purbalingga (1864) dan Madura (1866).


Cornelis de Groot, yang waktu itu memegang sebagai Head of the Department of Mines, di tahun 1864 lakukan pantauan hasil eksploitasi dan memberikan laporan ada tempat yang potensial. Laporannya tersebut yang dipandang seperti milestone riwayat perminyakan Indonesia (Abdoel Kadir, 2004).


Seterusnya, di tahun 1871 seorang pedagang Belanda Jan Reerink mendapati ada serapan minyak di wilayah Majalengka, wilayah di lereng Gunung Ciremai, samping barat daya kota Cirebon, Jawa Barat.


Minyak itu merembes dari susunan bebatuan tersier yang terkuak ke atas. Berdasar penemuan itu, dia lalu lakukan pengeboran minyak pertama di Indonesia dengan memakai pompa yang dilakukan oleh sapi. Keseluruhan sumur yang dibor sekitar empat sumur, Sumur pertama itu dinamakan Maja-1 atau Cibodas Tangat-1 dan hasilkan 6000 liter minyak bumi yang disebut produksi minyak bumi pertama di Indonesia.


Pengeboran ini berjalan cuma berlalu dua belas tahun sesudah pengeboran minyak pertama di dunia oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de Titusville (1859), di negara sisi Pennsylvania, Amerika Serikat.


4. Gedung Jangkung (Tinggi)

Penyebutan Gedung Jangkung atau dengan bahasa Indonesia maknanya tinggi, oleh warga karena bangunan ini mempunyai menara pada satu pojok bangunannya, yakni di pojok barat daya, sesuai pojok persilangan. Bangunan berdiri di atas batur dengan ketinggian ± 75 cm. Di bagian muka rumah tidak ada serambi.


Pintu khusus dinaungi oleh porch berkerangka atap berbahan kayu dan beratap seng. Lokasi Candi Arjuna didukung oleh pilar dengan ornamen yang cukup cantik yang keseluhan tampilkan wujud pelengkung. Pintu depan berbentuk pintu tinggi dengan 2 daun pintu berpanel kaca yang dijepit oleh dua jendela di kanan dan kirinya. Untuk sesuaikan wujud pintu khusus dengan porch, karena itu di atas jendela dan pintu ditaruh formasi bovenlight berbentuk kaca-kaca jendela tinggi yang nampaknya dapat dibuka jika memang perlu.


Bangunan ini berada di persilangan yang menyambungkan Jl. KH. Abdul Halim dengan Jl. Imam Bonjol dan Jl. Trickora, kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, diprediksi umurnya lebih dari 1 era, peluang lebih kurang tahun 1900-an.


Bangunan Gedung Jangkung ada di pojok persilangan jalan, hingga bangunan ini sebagai bangunan pojok. Seperti wajarnya bangunan pojok, tempat tanah Gedung Jangkung berdiri cukup luas (42 x 28 m), hingga masih ada tempat yang lega untuk dipakai sebagai taman pada bagian depan dan samping yang bersebelahan pada jalan. Luas bangunannya saja ± 28 x 19 m.


Serambi muka ada segi utara bersisian pada jalan masuk ke arah halaman belakang. Di bagian atas serambi ada satu lantai kembali, kemungkinan sebagai serambi terbuka yang pada tepiannya terbatasi oleh pagar dengan tinggi 50 cm dengan ornamen yang cantik. Tangga naik ke arah lantai atas itu ada di segi belakang serambi.


Gedung Jangkung dibikin dengan ruang-ruangan yang mempunyai plafon tinggi, hingga nyaris di sejauh dindingnya dipenuhi dengan jendela-jendela yang tinggi di bagian bawah dan atas. Rumah ini mempunyai pintu lain pada bagian samping dan belakang. Typanum sisi bagian barat mempunyai ornamen ukir-pahatan kayu yang lumayan menarik, di bagian bawahnya ada kanopi dengan atap asbes dalam formasi berlian (diamond pattern). Bahan dan wujud pasangan atap semacam ini kelihatan di bagian menara dengan keadaan yang sudah hancur.

Jayden Henry

More actions